Mitos Bakar Buku
mengapa rezim otoriter selalu takut pada lembaran kertas
Pernahkah kita menyadari betapa absurdnya ketakutan seorang diktator? Bayangkan sebuah rezim yang memiliki segalanya. Mereka punya militer yang tak terbatas. Mereka punya tank baja, pesawat tempur, dan intelijen yang bisa menyadap obrolan warganya dari balik dinding. Mereka memegang kendali penuh atas hidup dan mati jutaan orang. Namun, di tengah semua kekuatan absolut itu, para tiran ini tiba-tiba bisa berkeringat dingin hanya karena tumpukan kertas renyah beraroma debu yang dijilid menjadi satu. Ya, kita sedang membicarakan buku.
Tidakkah aneh saat melihat orang-orang yang paling berkuasa di bumi merasa perlu mengerahkan pasukan hanya untuk membuat api unggun dari lembaran-lembaran novel, esai, atau puisi? Dari luar, ini terlihat seperti pameran kekuatan yang menakutkan. Asap mengepul ke udara, menutupi langit malam, sementara serdadu bersorak. Namun, jika kita membedahnya dengan lebih jeli, ritual membakar buku sebenarnya bukanlah pameran kekuatan. Itu adalah sebuah pengakuan kelemahan yang sangat telanjang. Ada sesuatu yang sangat rapuh dari sebuah rezim otoriter, sehingga mereka menganggap benda mati berukuran persegi panjang ini sebagai senjata pemusnah massal.
Mari kita berjalan mundur sejenak menyusuri lorong sejarah. Kebiasaan aneh ini ternyata sudah menjadi semacam prosedur operasi standar bagi hampir semua rezim tangan besi. Pada tahun 213 Sebelum Masehi, Kaisar Qin Shi Huang dari Tiongkok memerintahkan pembakaran semua buku sejarah dan filsafat yang tidak sejalan dengan narasinya. Ribuan tahun kemudian, pada malam 10 Mei 1933, mahasiswa-mahasiswa yang dicuci otaknya oleh Nazi Jerman melemparkan puluhan ribu buku karya Albert Einstein, Sigmund Freud, dan Helen Keller ke dalam kobaran api di Berlin.
Pola ini terus berulang dari zaman kuno hingga era modern. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh para penguasa ini? Secara psikologis, rezim otoriter bertahan hidup dengan satu mata uang utama: monopoli atas kebenaran. Mereka butuh warganya melihat dunia hanya melalui satu jendela yang sempit. Ketika ada buku yang menawarkan jendela lain—atau bahkan hanya sebuah celah kecil di dinding—kemonopolian itu terancam. Tapi mari kita gali lebih dalam lagi. Mengapa harus buku? Mengapa bukan sekadar melarang orang berkumpul atau berbicara?
Di sinilah misteri utamanya bermula. Sejenak, mari kita lepaskan kacamata sejarah dan memakai kacamata sains. Ada sebuah perbedaan mendasar antara mendengarkan pidato propaganda di radio dengan membaca sebuah buku sendirian di dalam kamar. Propaganda dirancang untuk mematikan fungsi kognitif kita. Ia menggunakan emosi mentah—seperti rasa takut dan amarah—untuk mem-bypass logika.
Namun, membaca buku adalah sebuah proses neurologis yang sama sekali berbeda. Ketika kita membuka halaman pertama dan mulai membaca untaian kalimat, otak kita tidak sekadar menerima informasi secara pasif. Ada sebuah mekanisme luar biasa di dalam kepala kita yang tiba-tiba menyala layaknya sirkuit listrik kota di malam hari. Rezim otoriter mungkin tidak mengerti anatomi otak secara medis, namun insting paranoid mereka menangkap sebuah bahaya laten dari aktivitas membaca ini. Mereka tahu ada sesuatu yang berubah di dalam diri manusia setelah ia menutup buku. Sesuatu yang membuat manusia itu tiba-tiba menjadi lebih sulit untuk ditundukkan. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tempurung kepala kita?
Jawabannya tersembunyi dalam sebuah konsep neurosains dan psikologi yang disebut Theory of Mind. Secara sederhana, ini adalah kemampuan otak manusia untuk memahami bahwa orang lain memiliki pemikiran, perasaan, dan sudut pandang yang berbeda dari dirinya sendiri. Saat kita membaca buku—terutama fiksi atau narasi sejarah yang kuat—kita dipaksa untuk keluar dari tubuh kita sendiri dan masuk ke dalam kepala karakter lain. Mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging) telah membuktikan hal ini. Ketika kita membaca tentang seseorang yang berlari ketakutan di tengah hutan, area motorik di otak kita ikut menyala, seolah-olah kita sendirilah yang sedang berlari.
Inilah rahasia terbesarnya: membaca menciptakan empati melalui simulasi neurologis. Otak kita mengalami neuroplastisitas, di mana koneksi antar-saraf yang baru terbentuk, membuat kita lebih toleran dan kritis. Dan teman-teman, empati adalah musuh alami dari fasisme dan otoritarianisme.
Sebuah rezim yang kejam membutuhkan warganya untuk tidak peduli. Mereka butuh kita melihat kelompok minoritas atau kaum oposisi bukan sebagai manusia, melainkan sebagai angka, ancaman, atau serangga yang harus diinjak. Narasi "kita melawan mereka" hanya bisa hidup jika kita tidak bisa membayangkan rasa sakit orang lain. Buku menghancurkan tembok pemisah itu. Para diktator itu sebenarnya tidak takut pada kertasnya. Mereka ketakutan setengah mati pada empati dan kemampuan berpikir kritis yang diam-diam tumbuh di dalam otak kita saat kita membalik halamannya.
Pada akhirnya, mitos tentang pembakaran buku mengajarkan kita sebuah ironi yang indah. Api memang bisa mengubah selulosa dan tinta menjadi abu hitam yang beterbangan tertiup angin. Namun, tidak ada api yang cukup panas untuk membakar sebuah ide yang sudah terlanjur berakar di dalam jaringan otak manusia.
Setiap kali kita melihat upaya pemberangusan buku—baik secara fisik di masa lalu, maupun secara digital lewat sensor di masa kini—kita pantas untuk tersenyum kecil. Itu adalah pengingat bahwa di balik seragam militer dan wajah garang para tiran, mereka hanyalah sekelompok raksasa berkaki lempung yang gemetar melihat manusia-manusia yang mau berpikir. Mari kita rawat rasa ingin tahu kita, dan mari kita terus membaca. Karena selama kita masih bersedia membalik halaman untuk memahami cerita orang lain, kita sedang merawat senjata paling mematikan yang pernah diciptakan untuk melawan kezaliman: kemanusiaan kita sendiri.